OPAC
Perpustakaan
Integrity, Trust, Compassion
 Deskripsi Lengkap
 Kembali
No. Panggil : S05-00055
Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru di ruang rawat inap Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta tahun 2000
Pengarang : Lia Amaliah
Penerbit dan Distribusi : FIKES
Subjek : PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU
Jenis Bahan : {007/00}
Lokasi :
 
  • Ketersediaan
  • File Digital: 1
  • Ulasan Anggota
  • Sampul
  • Abstrak
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
S05-00055 S05-00055 TERSEDIA
Ulasan Anggota:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 38884
 Abstrak
Penyakit tuberkulosis- saat kembali muncul ke permukaaa sebagai penyebab utama kematian. WHO menyatakan bahwa tuberkulosis (TB) saat ini telah menjadi ancaman global. Khusus di Indonesia, TB paru masih merupakan masalah kesehatan. Menurut Survai Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1992, tuberkulosis merupakan penyebab kematian ke-2 setelah penyakit kardiovaskular,sedangkan menjadi urutan ke-3 pada tahun 1995, serta urutan ke-1. pada kelompok penyakit infeksi. Penderita TB paru menular saat ini terdapat 450.000 orang dan setiap tahunnya penderita baru akan bertambah sebesar 8 per 10.000 penduduk yaitu ± 150.000 penderita, yang tiga perempat dari kasus ini berusia 15 - 59 tahun, separuhnya tidak terdiagnosis. ( Profit Kesehatan Indonesia,1998 ) Kasus tuberkulosis didominasi oleh TB paru sebanyak 80 - 85 % dan 80 % kasus TB paru terjadi pada usia produktif ( 15 - 59 tahun ). (WHO,1997 ) Tujuan penelitian ini adalah diperoleh gambaran mengenai basil pelaksanaan program pengobatan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan program pengobatan Tuberkulosis paru di RSPP Jakarta tahun 2000 yang meliputi umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, status gizi, riwayat pengobatan, keteraturan berobat, istirahat, asal wilayah dan dukungan keluarga. Dari basil penelitian ditemukan 21 orang penderita ( 77,8 % ) kasus Iama dan 18 orang ( 100 % ) kasus bare mengalami keberhasilan pengobatan menurut konversi sputum dart 15 orang penderita ( 55,6 % ) kasus lama dan 18 orang ( 100 % ) kasus baru mengalami keberhasilan pengobatan setelah 6 bulan menjalani pengobatan. Riwayat pengobatan menjadi faktor panting terhadap keberhasilan pengobatan karena pada kasus lama ini berhubungan dengan resistensi obat I cepat membentuk diri menjadi kebal terhadap OAT ( Obat Anti Tuberkulosis ), efek samping dari obat. Untuk itu perlu penanganan lebih lanjut bila didapatkan keluhan seperti diatas untuk segera menentukan paduan obat yang hares diberikan pada kasus lama / pernah menjalani pengobatan sebelumnya. Pada I penderita kasus baru lebih mudah untuk berhasil dalam pengobatan disebabkan pada kasus baru penderita diharapkan menjaga kondisi tubuhnya sedemikian rupa agar dapat dilakukan rehabilitasi semaksimal mungkin, Keteraturan berobat merupakan faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan pengobatan TB paru. mengingat penderita diharuskan minum obat sesuai ketentuan dalam waktu minimal 2 - 9 bulan untuk mencapai basil yang diharapkan. Untuk itu diperlukan pengertian, kemauan, kesanggupan, dari penderita untuk menjalani pengobatan sampai dinyatakan sembuh dengan pemeriksaan ulang. Pengawasan keteraturan berobat diperlukan adanya dukungan keluarga yang sangat berperan dalam keberhasilan pengobatan TB paru yang juga merupakan bagian penting dari program pemberantasan TB, dalam hal ini siapapun dapat berperan sebagai pengawas minum obat. Dalam penelitian ini didapatkan 100 % dukungan dari keluarga dari total keseluruhan 1 45 orang penderita yang dirawat di ruang rawat RSPP Jakarta tahun 2000. Keberhasilan pegobatan TB paru dapat terwujud dengan menerapkan strategi Directly Observed Therapy Shari- course ( DOTS) yang merupakan rekomendasi WHO yang diberlakukan balk untuk negara berkembang maupun negara sedang berkembang seperti Indonesia.
|| Pengguna : Perpustakaan || Tampilan terbaik dengan  Firefox