Abstrak
Telah dilakukan penelitian terhadap bahan pangan sebagai alternatif Iodium pada garam beriodium. Bahan yang digunakan yaitu Singkong, Gadung, Rebung dan Biji Kret. Diperoleh 10 sampel Singkong, 4 jenis dari Kuningan (SRK, SGHK, SGK, SMK), 3 jenis dari Sukabumi (SBMS, SBHS, SSKS) dan 3 jenis dari Bogor (SCB, SPB dan SMB). Gadung diperoleh 6 sampel yaitu 2 sampel dari Kuningan (GPK & GKK), 2 sampel dari Sukabumi (GP1S & GP2S) dan 2 sampel dari Bogor (GPB & GKB). Rebung diperoleh 9 sampel yaitu 3 sampel dari Kuningan (RBK, RTK, RHK), 3 sampel dari Sukabumi (RBS, RTMS, RTS) dan 3 sampel dari Bogor (RTB, RAB dan RBB). Biji karet diperolah 8 sampel yaitu 3 sampel dari Bogor (GT1B, LCB 1320 B, WRB), 2 sampel dari Kuningan (LCB479K, PR 300 K) dan 3 sampel dari Sukabumi (GT1S, PR 303 S, PR 300 S). Hasil pengujian garam ioidium menggunakan singkong menunjukkan tidak terlihat adanya pengaruh kadar air, HCN dan amilosa singkong terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Bagitu pula hasil pengujian menggunakan gadung, rebung atau biji karet, menunjukkan tidak adanya pengaruh kadar air, HCN atau amilosa terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Singkong, gadung, rebung dan biji karet dapat digunakan untuk memperoleh gambaran apakah suatu garam beriodium yang beredar memenuhi syarat iodisasi atau tidak. Mengingat adanya variasi warna yang timbul perlu diperhatikan intensitas warna yang timbul serta lamanya intensitas warna yang timbul serta lamanya intensitas tersebut bertahan.